Latest News

Nasionalisme Dari Puncak Meratus (Kemerdekaan Indonesia 2015)

Lagu Indonesia Raya berkumandang dari atas puncak Halau-Halau, puncak tertinggi Pegunungan Meratus. Peringatan HUT proklamasi kemerdekaan dari ketinggian 1.901 mdpl ini, menunjukkan rasa nasionalisme dan bangga sebagai anak bangsa.

     Memang lebih sederhana, di tanah datar seukuran 20x20 meter upacara peringatan HUT kemerdekaan Indonesia ke 70 ini, juga lengkap dengan pasukan pengibaran bendera merah putih (paskibraka) dan inspektur upacara, seperti upacara bendera pada umumnya.
     Upacara ini berlatar belakang pemandangan puncak gunung nan luar biasa indah, dimana hamparan awan serta puncak-puncak pegunungan menjulang yang disinari mentari pagi membuat rasa nasionalisme kita semakin kokoh.
     Ratusan, mungkin hampir seribu orang mahasiswa pecinta lingkungan yang berasal dari berbagai perguruan tinggi, pelajar, para pecinta lingkungan dan masyarakat mengikuti pendakian massal puncak pegunungan meratus. Tahun ini mapala Graminie Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin mendapat giliran menjadi panitia utama pelaksanaan peringatan HUT Kemerdekaan Indonesai di atas puncak meratus.
     Peringatan HUT Kemerdekaan yang ditandai dengan upara pengibaran bendera Merah Putih di titik tertinggi Kalimantan Selatan ini menjadi agenda rutin setiap tahunnya. Kemeriahan peringatan HUT kemerdekaan ini tidak kalah dengan kemeriahan acara serupa di kota, terlebih masyarakat pegunungan, suku dayak meratus ikut bersuka cita memperingati HUT kemerdekaan Indonesia.
     Selain acara pokok pengibaran bendera merah putih dan peringatan detik-detik proklamasi, beragam lomba khas tujuh belasan juga digelar pihak penitia, seperti balap karung, tarik tambang, panjat pinang dan makan kerupuk. Lomba ini digelar di Desa Kiyu desa terakhir di kaki pegunungan meratus. Khusus ini para pendaki, digelar lomba memungut sampah sebagai upaya untuk memerangi sampah pada rute pendakian puncak meratus.
     “Pendakian puncak meratus ini memerlukan waktu hingga lima hari, biasa antara tanggal 14-19 agustus,” tutur Rizky Rahman, Ketua Mapala Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Banjarmasin yang tahun ini memberangkatkan tidak kurang dari 30 orang anggota mapala.
     Sebagian besar anggota mapala ini berangkat dari Banjarmasin menggunakan sepeda motor menuju Desa Kiyu, desa paling ujung di wilayah Kecamatan Batang Alai Timur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Desa yang dihuni masyarakat suku dayak ini merupakan desa terakhir, lokasi dimulainya pendakian ke puncak meratus.
     Di Desa Kiyu, para pendaki akan berkumpul untuk mengikuti ritual upacara adat, tolak bala yang dipimpin balian suku dayak, dengan tujuan agar pelaksanaan pendakian dan upacara bendera di puncak meratus dapat berjalan lancar. Pendakian puncak meratus, berbeda dengan pendakian gunung umumnya seperti di pulau Jawa.
     Jika di pulau Jawa pendakian hanya memerlukan waktu satu hari (malam hingga dinihari) maka, perjalan mendaki puncak meratus perlu waktu hingga empat hari pulang pergi.
     Adapun rute pendakian puncak meratus dengan ketinggian mencapai 1.901 mdpl adalah Desa Kiyu - Shelter Sungai Karuh (pos 1) - Shelter Panyaungan (pos 2) – Puncak Meratus dan kembali ke Shelter Penyaungan - Shelter Sungai Karuh - Desa Kiyu. Mendaki meratus, maka kita akan dihadapkan pada rute jalan setapak yang dikelilingi hutan rimba. Lembah dan anak-anak sungai berair jernih dan dingin. Di sekitar wilayah Desa Kiyu masih dijumpai jembatan gantung yang kondisinya mulai rusak.

     Sepanjang perjalanan, kita akan dapat menghirup udara  segar. Diperlukan waktu hingga delapan jam untuk sampai ke pos 1 di Shelter Sungai Karuh. Sampai di pos 1 ini, para pendaki akan beristirahat. Pagi hari para pendaki dapat menikmati keindahan air terjun dengan ketinggian puluhan meter, sambil melanjutkan pendakian menuju pos 2 di Shelter Panyaungan.

     Perjalanan dari pos 2 menuju puncak meratus pun memerlukan waktu kurang lebih sama. Banyak pendaki yang memilih bermalam di pos 2 ini dan melanjutkan perjalan ke puncak menjelang subuh untuk mendapatkan momen matahari terbit (sun rise). Namun banyak pula pendaki yang terus menuju puncak, karena jarak dari pos 2 ke puncak kurang dari satu jam perjalanan.

     Siang, setelah upacara peringatan HUT Kemerdekaan selesai di puncak meratus, para pendakipun melakukan perjalanan pulang.

Selamatkan meratus

Peringatan HUT kemerdekaan di atas puncak meratus ini, dapat menjadi bagian dari upaya melestarikan dan penyelamatan kawasan hutan pegunungan meratus.
“Kita turut mendukung mahasiswa pecinta alam di Kalsel untuk mendaki puncak pegunungan Meratus dalam rangka peringatan HUT proklamasi, sekaligus upaya menyelamatkan meratus dari kerusakan,” kata Wakil Ketua Komunitas Jurnalis Pena Hijau Indonesia, Rahman Khaidir.

Diketahui, saat ini kawasan pegunungan meratus semakin terancam akibat gencarnya perambahan hutan maupun alih fungsi kawasan hutan menjadi perkebunan dan pertambangan. Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Rahmadi Kurdi,  mengatakan sejauh ini pihaknya mulai menjajaki kemungkinan penetapan kawasan pegunungan Meratus yang membentang di sembilan kabupaten/kota di Kalsel tersebut menjadi taman nasional.

     “Melihat kondisi yang ada dan semakin besarnya ancaman kerusakan dan alih fungsi, maka pemerintah daerah menilai sangat penting untuk menjadikan pegunungan meratus menjadi taman nasional,” ungkapnya. Dengan penetapan status taman nasional, maka kontrol terhadap pemanfaatan kawasan hutan di pegunungan Meratus akan semakin ketat. Disamping itu, kondisi degradasi lingkungan kawasan yang merupakan daerah penyangga utama Kalsel ini dapat ditekan, termasuk upaya penyelamatan kawasan hutan berikut flora dan fauna.

     Saat ini luas kawasan berhutan di Kalsel diperkirakan kurang dari 700.000 hektar dari luas areal kawasan hutan yang ditetapkan pemerintah seluas 1,6 juta hektar. Sementara luas lahan kritis terus bertambah menjadi 761.000 hektar. Demikian juga diperkirakan hutan perawan yang tersisa di lereng atau puncak pegunungan meratus tinggal 20 persen.

0 Response to "Nasionalisme Dari Puncak Meratus (Kemerdekaan Indonesia 2015)"