Latest News

Rumah Layak Bagi Warga Suku Dayak KALSEL

Siang itu, suasana di Desa Ajung terlihat cukup ramai. Para ibu terlihat duduk-duduk santai di serambi depan rumah mereka, sambil bercengkrama dengan anak-anak mereka.

     Sementara kaum pria suku dayak pitap ini, berkumpul di balai adat desa, untuk mempersiapkan acara aruh atau pesta panen. Tahun ini hasil panen berupa padi gunung yang dikenal dengan sebutan padi sibuyung cukup baik, sehingga pesta panen disepakati berlangsung sampai satu minggu.

dayak kalsel
Ilustrasi Dayak - Devids.net

     “Hasil panen tahun ini cukup melimpah, sehingga acara pesta panen akan digelar meriah dengan melibatkan warga dari balai-balai adat di sekitar,” tutur Junal, Kepala Desa (Pembakal) Desa Ajung. Balai adat Ajung merupakan balai adat induk yang membawahi empat balai adat lain di sekitar desa tersebut.

     Desa Ajung yang berasal dari kata paling ujung adalah salah satu desa terpencil di Kabupaten Balangan, berada di kaki pegunungan Meratus. Selama ini sebagian besar warga suku dayak hidup tidak menetap, berpindah-pindah mengikuti kegiatan bertani dengan sistem ladang berpindah.

     Hingga 2007 Kementerian Sosial membangun 100 buah rumah bagi warga dalam program Komunitas Adat Terpencil (KAT). Otomatis Desa Ajung yang sebelumnya hanya dihuni beberapa keluarga penghuni tetap ini menjadi sebuah perkampungan.

     Rumah-rumah dibangun pemerintah ini mirip dengan rumah yang disediakan bagi transmigran. Sederhana, berukuran kecil dan terbuat dari kayu. Namun letaknya berdekatan satu sama lain, bahkan terkesan tidak beraturan berbeda dengan rumah transmigran yang memiliki lahan pekarangan luas.

     Meski pemerintah telah menyediakan rumah dan memberikan jatah hidup, warga tidak bisa meninggalkan budaya bertani ladang berpindah yang sudah turun temurun mereka lakukan. Mayoritas penduduk desa yang berprofesi sebagai petani ladang dan sebagian lainnya bertani karet di kawasan hutan sepanjang kaki pegunungan Meratus baru akan turun ke desa atau rumah mereka pada setiap akhir pekan ataupun ada upacara adat.

     Rumah-rumah tersebut, hanya menjadi tempat singgah mereka untuk berbelanja aneka kabutuhan hidup untuk dibawa ke ladang (pahumaan). Pada hari biasa anak-anak mereka lah yang mendiami rumah-rumah tersebut, untuk bersekolah.

     Saat ini Desa Ajung dihuni sebanyak 158 keluarga atau sekitar 500 jiwa. Namun hanya seperempat penduduk saja yang benar-benar bermukim di desa tersebut. Sebagian besar penduduk desa beragama hindu kaharingan yang merupakan agama kepercayaan dari nenek moyang mereka.



Sulit Dijangkau

Sebenarnya, pemerintah telah membangun berbagai sarana dan prasana di desa yang sulit dijangkau ini. Berupa sekolah tingkat SD dan SMP, kantor bidan dan kantor desa. Sayangnya, kondisi bangunan sekolah saat ini sudah dalam kondisi rusak, demikian juga dengan bidan desa yang sudah tidak lagi datang ke desa dalam tiga tahun terakhir.

     Desa ini juga belum dialiri listrik dan tidak ada sinyal. Untuk penerangan malam hari warga menggunakan mesin diesel milik keluarga yang lebih mampu dan aliri ke rumah-rumah warga, tentunya dengan sistem iuran. Fasilitas listrik tenaga surya (solar cell) diberikan pemerintah banyak yang sudah rusak.

     Demikian juga dengan infrastruktur jalan. Desa yang berjarak sekitar 35 kilometer dari kota kabupaten ini dapat dijangkau kurang lebih 2-3 jam menggunakan sepeda motor akibat separuh ruas jalan belum beraspal dan hanya berupa tumpukan bebatuan, sehingga sulit dilalui terlebih saat hujan.

     Terlebih jika menggunakan mobil tanpa dilengkapi dobel gardan, maka mobil dipastikan tidak sampai ke desa dan harus diparkir di tengah hutan dan perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki. Bupati Balangan, Seffek Effendi mengakui masih ada sejumlah desa di wilayahnya masuk kategori terpencil dan sulit dijangkau.

     Desa Ajung sendiri tergolong daerah yang dekat dari kota. Pasalnya, beberapa lokasi KAT berada jauh di dalam hutan bahkan harus ditempuh dengan berjalan kaki puluhan jam dari desa terakhir.

     Sementara, Kepala Seksi Sosial, Dinas Kesejahteraan Sosial Kalsel, Bahri, mengungkapkan program serupa KAT ini sudah berjalan sejak 1950an di Kalsel. “Dulu namanya Program Permukiman Masyarakat Suku Terasing dan kini disebut Komunitas Adat Terpencil,” ungkapnya.

     Sejauh ini pemerintah telah membangun sedikit 150 KAT di berbagai wilayah Kalsel. Program untuk membangun permukiman layak dan memudahkan pelayanan bagi warga terpencil ini diakui banyak kurang berhasil, karena sulitnya menghapus budaya warga yang lebih memilih hidup berpindah-pindah.

     Namun banyak pula yang berhasil dan berkembang, seperti Desa Ajung di Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Balangan ini. Saat ini Kementerian Sosial masih membina KAT di sejumlah lokasi di Kalsel seperti Desa Haruyan Dayak, Desa Batu Perahu, Desa Datar Batung dan Desa Pacung di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Serta rencana pembangunan kawasan permukiman baru bagi KAT di sejumlah wilayah lain di Kalsel.

0 Response to "Rumah Layak Bagi Warga Suku Dayak KALSEL"